Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 November 2017

Cara Kirim Cerpen Anak ke Rubrik Permata Majalah Ummi



Saya sudah lama ingin mengirim naskah cerpen anak ke majalah selain Bobo. Karena setelah Kompas Anak tak lagi terbit, makin sulit mencari tempat untuk mengirim cerita anak. Bukannya saya jenuh mengirim ke Bobo, namun jika saya terlalu sering mengirim ke satu tempat, saya jadi hanya mengirim naskah dengan nafas yang mirip-mirip secara berkala. Membuat saya tidak belajar membuat cerita dengan nafas yang berbeda.

Ada beberapa pilihan mengirim ke koran, biasanya beberapa koran harian menerbitkan satu cerita anak di akhir pekan. Namun saat ini saya ingin mengirim ke majalah yang mudah  didapatkan di tempat saya, seperti Majalah Ummi.

Jumat, 19 Mei 2017

Cara Saya Mengiringi Hari (Anak) yang Aktif





"Ma, ayuk main." Rakha sudah mengulurkan mainan mobil.
Saya menyanggupi.
"Ma, ayuk main." Rakha mengulurkan mainan robot-robotan.
Saya mengacungkan jempol dan beranjak berdiri padahal baru sepuluh menit selonjoran setelah mencuci.
“Ma, tolong ambilkan itu di atas.” Ujarnya sambil menunjuk lego-legoan yang saya simpan di atas lemari.
Saya mengangguk pelan dan mengambilkan barang yang diminta dari atas lemari. Mata saya menyapu mainan-mainan lain yang berserakan di laintai. Benak saya mulai menghitung jumlah mainan yang akan saya masukkan ke dalam kontainer khusus mainan.
"Ma, ayuk main. Mama jadi monster."
Saya berubah jadi godzilla betulan.

***

 
Rakha saat belajar mewarnai - yang bertahan 5 menit

Pernah berada di posisi saya? Anak luar biasa aktif, dan hanya kita yang diajak main?
Badan dan pikiran rasanya, masya Allah.....
Apalagi jika anak tidak mau tidur siang, rasanya perlahan-lahan tanduk (emosi) saya seperti akan muncul.
"Ayo bobo dulu." (arti : Mama mau istirahat)
"Mau minum susu."
"Nah, udah minum susu, ayo bobo." (arti : cepetan, Mama udah capek banget )
"Mau nonton.."
"..." (arti : GRRRRAAAAAAH)

 ***

Lalu saya ambil kopi sachet, tuang air panas, buang isinya, dan pegang bungkusnya dengan bingung.
...

Selasa, 02 Mei 2017

Cara Memilih PAUD untuk Anak



“Kok belum sekolah anaknya?”
“Ih, sudah besar, ya. Sekolah di mana?”

Saya sejujurnya terkaget-kaget mendapat pertanyaan bertubi-tubi seperti itu saat Rakha beranjak besar. Masalahnya, beranjak besar ini baru berusia 3 tahun lebih. Masakan 3 tahun sudah disuruh sekolah? Batin saya berteriak. 

Meskipun, sejak usia 2 tahun, Rakha sebetulnya sudah ‘bersekolah’. Sekolah di sini adalah Terapi Wicara yang rutin kami jalani sejak Rakha didiagnosis ‘Speech Delay’ oleh DSA langganan di Solo. Terapi yang dilakukan seminggu dua kali selama satu jam per kedatangan itu cukup merogoh kantung kami. Terlebih ayahnya Rakha saat itu sedang dinas belajar, sehingga hanya menerima gaji pokok saja. Syukurlah biaya kehidupan di Solo masih sangat terjangkau. Kami masih bisa menikmati Soto Ayam seharga 3000 rupiah semangkuk. 

            Sejujurnya, saya maupun suami mungkin terlampau santai dalam mengasuh Rakha. Kami tidak mengikuti teori parenting manapun. Saat muncul teori populer yang berprinsip tidak boleh melarang anak, bahkan tidak boleh dimarahi. Suami berprinsip, jika anak salah ya harus ditegur. Kadang kami juga bertukar peran ‘Good Cop, Bad Cop’. Jika suami yang sedang marah pada Rakha, maka saya yang bertugas menjelaskan pada Rakha kesalahannya dengan lembut, lantas mengajaknya meminta maaf pada ayahnya. Jika saya yang sedang marah, maka suami yang bertugas menemani Rakha saat saya sedang dalam ‘mode murka’. 
 
Salah satu PAUD yang pernah kami coba
         

Senin, 06 Januari 2014

Di balik Cerita Anak 'Lengan-lengan Guri'

Agak lama saya menyelesaikan cerita untuk lomba ini. Beberapa ide terasa tidak cocok dan saya eliminasi. Ide cerita ini muncul tiba-tiba saat saya iseng bercerita pada Rakha (17m). Rakha diam saja mendengarkan dan tampak menunggu cerita saya berlanjut. Cerita ini harus ditulis, pikir saya.

Cerita ini mulai saya tulis via hp. Yup, hp saja, saya menggunakan laptop di saat-saat terakhir editing dan posting ke blog. Cerita ini saya kerjakan sesempatnya. Di sela-sela perjalanan dalam mobil sambil menggendong Rakha yang tertidur, saya mengetik di hp dengan sebelah tangan. Di sela-sela menyuapi Rakha, di sela-sela bermain dengan Rakha. Karena kalau menunggu sampai bisa mengetik di laptop, bisa nggak selesai-selesai :p

Saat hampir selesai cerita, saya termenung, kok, saat bikin cerita sa ya tidak mencari data dahulu. Padahal sudah mepet sekali, tapi saya sempatkan mencari sedikit data di wikipedia. Dan ternyata, hampir saya melakukan kesalahan. Gurita berbeda dengan cumi-cumi. Tangan gurita dinamakan lengan, bukan tentakel. Segera saya edit dan posting di blog dengan judul 'Lengan-lengan Guri'.

Alhamdulillah, dan sangat tidak saya sangka, cerita saya berhasil menjadi pemenang lomba. Bisa dilihat di blog Winner Class
www.WinnerClass.blogspot.com

Rabu, 25 Desember 2013

(Cerita) Lengan-lengan Guri

Lengan-lengan Guri


Guri pergi mengunjungi sahabat-sahabatnya di pingir pantai. Ia membawa oleh-oleh rumput laut yang dijemur.
Ia mengetuk pintu rumah Caca, si kepiting abu-abu. "Caca, aku bawa rumput laut kesukaanmu nih."
Caca dengan gembira menyambut Guri, "masuk Guri. Waah, terimakasih ya."
"Main yuk, Caca."
"Oke, main bekel yuk."
Caca mengambil bola karet dan 6 batu kecil lalu mulai bermain. Lincah capitnya melempar bola karet dan memungut batu. Caca lalu menyerahkan bola pada Guri. Guri mengambil bola dan mencoba melempar ke atas. Tapi bola itu melekat kuat di lengan Guri.
"Guri, dilempar dong bolanya."
"Duh, Ca, nempel ni. Uuuh.."
PANG
PONG
BRUK
PRANG!!

Senin, 23 Desember 2013

Solo untuk kota layak anak

Apa kriteria kota layak anak?

Sudah sering saya lewati plang reklame 'wujudkan solo sebagai kota layak anak', dan sering pula saya mbatin , kok nggak kelihatan ya perkembangan ke arah kota layak anaknya?
Mungkin perkembangannya lebih tersirat jadi saya belum bisa lihat :)
Tapi kalau boleh berharap pada pemerintah kota solo ya, saya mau minta :
1. Seribu taman bermain anak.Yang gratis :p Tempat permainan anak di mal-mal bayar 10 - 25 rb per jam, mana pengantar tidak boleh ikut main, *eh.
2. Dukung dan perbanyak pameran buku anak, dari pada ngomel-ngomel nyuruh anak berhenti main game, lebih baik gencarkan gerakan gemar membaca.
3.   Giatkan gerakan main di luar, eh ini mah sudah dipakai sama restoran fastfood ya taglinenya :p
4. Syaratkan tempat-tempat publik yang sering dikunjungi anak-anak aman, seperti jangan ada sudut tajam yang berpotensi mengenai anak, memasang jaring pengaman, dan sebagainya.

Ini hanya sekedar pemikiran saya saja :) kalau ternyata artian kota layak anak memang bukan seperti itu, berarti yang saya tulis di atas untuk kota yang asyik buat anak :D

Kamis, 07 Mei 2009

Penemuan Kacamata

Seri Penemuan 46 : Penemuan Kacamata
Elex Media Komputindo
Maret 2008
Kali ini aku bekerja sama dengan Dhiah. Sepertinya dosen pembimbing kami memberikan tema ini karena kami berdua sama-sama mengenakan kacamata ^^;
Cerita pengiring dalam buku ini bisa dibilang curhat kami saat masih SD dan sudah memakai kacamata. Bermula dari Riki yang mengejek Caca yang memakai kacamata, Caca sampai menangis! Hingga bu guru melerai dan menjelaskan pada murid-muridnya mengapa ada anak yang memerlukan kacamata, serta bagaimana sejarah hingga kacamata bisa seperti sekarang. Bayangkan, kacamata masa kini bahkan ada yang bisa menyetel lagu! :D
Mom di luar sana yang kebingungan menjelaskan pada putra-putri tercintanya mengapa mereka harus menggunakan kacamata, serta meyakinkan mereka bahwa mengenakan kacamata tak membuat penampilan mereka kurang menarik. Berikan buku ini pada anak-anak tercinta :) semoga dengan pemahaman dan cinta dari keluarga, anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan lebih indah.

Achoo! Hidungku Tersumbat

Seri Aku Mau Sehat 2 : Hidungku Tersumbat
Elex Media Komputindo
Desember 2007


Di sini pertama kali aku bekerja sama dengan orang lain. tentu pada awalnya ada beberapa kendala, bagaimana membagi tugas, membagi waktu, kesel-keselan, ngambek :) Alhamdulillah akhirnya kami (Riska dan Rubby) bisa menyelesaikan buku ini. Sekarang kl ingat masa-masa itu mau ketawa aja, kesalnya udah lewat, yang paling keingetan justru rasa keripik seblak yang sering dimakan Rubby saat mengerjakan buku ini.

Di dalam buku ini diceritakan tentang flu - bagaimana cara masuknya, apa reaksi sistem kekebalan tubuh kita, dan apa yang terjadi saat kita terkena flu. jangan lupa di buku ini juga disertakan saran-saran (dengan gambar-gambar, tentunya :p ) apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghindari flu, dan tindakan yang kita lakukan jika kita terkena flu.

Dear para Mom, untuk menasihati buah hati tentang pentingnya kesehatan, bisa memberi buku ini sehingga mereka mengerti dengan cara yang menyenangkan :)

Selasa, 05 Mei 2009

My First Published Book : Penemuan Madu

Seri Penemuan 21 : Penemuan Madu
Penerbit : Elex Media Komputindo
Juli 2006



Cover dalam dari buku pertamaku, hingga kinipun rasanya masih bahagia serta tersipu saat melihatnya. Tersipu karena temanku sendiri ada yang tak percaya naskah ini bisa lolos mata editor, sekaligus bahagia karena aku begitu beruntung bertemu editor yang tak hanya melihat tampilan luar (Best Wishes for you, Bu Retno. Andalah orang pertama yang mengatakan karya saya, "Bagus.").
Ceritanya Asri merasa tak enak badan dan disarankan minum madu sebelum tidur. saat tidur ia bermimpi berada di taman bunga dan bertemu dengan kak lebah. Lebah saat itu sedang mencari nektar di bunga-bunga untuk dijadikan madu. Asri lalu diajak kak lebah untuk mengunjungi sarangnya, selama perjalanan mencari tahu bagaimana madu dibuat, ia diceritakan bagaimana lebah memberitahu kawannya tentang lokasi bunga-bunga dan khasiat madu. Perjalanan berakhir saat hari sudah menjelang sore dan Asri harus pulang. Iapun terbangun di tempat tidurnya, dengan hadiah setoples madu di dekatnya :)