“Kok belum sekolah
anaknya?”
“Ih, sudah besar, ya.
Sekolah di mana?”
Saya sejujurnya
terkaget-kaget mendapat pertanyaan bertubi-tubi seperti itu saat Rakha beranjak
besar. Masalahnya, beranjak besar ini baru berusia 3 tahun lebih. Masakan 3
tahun sudah disuruh sekolah? Batin saya berteriak.
Meskipun, sejak usia 2
tahun, Rakha sebetulnya sudah ‘bersekolah’. Sekolah di sini adalah Terapi
Wicara yang rutin kami jalani sejak Rakha didiagnosis ‘Speech Delay’ oleh DSA langganan di Solo. Terapi yang dilakukan
seminggu dua kali selama satu jam per kedatangan itu cukup merogoh kantung
kami. Terlebih ayahnya Rakha saat itu sedang dinas belajar, sehingga hanya
menerima gaji pokok saja. Syukurlah biaya kehidupan di Solo masih sangat terjangkau.
Kami masih bisa menikmati Soto Ayam seharga 3000 rupiah semangkuk.
Sejujurnya, saya maupun suami mungkin terlampau santai
dalam mengasuh Rakha. Kami tidak mengikuti teori parenting manapun. Saat muncul
teori populer yang berprinsip tidak boleh melarang anak, bahkan tidak boleh
dimarahi. Suami berprinsip, jika anak salah ya harus ditegur. Kadang kami juga
bertukar peran ‘Good Cop, Bad Cop’. Jika suami yang sedang marah pada Rakha,
maka saya yang bertugas menjelaskan pada Rakha kesalahannya dengan lembut,
lantas mengajaknya meminta maaf pada ayahnya. Jika saya yang sedang marah, maka
suami yang bertugas menemani Rakha saat saya sedang dalam ‘mode murka’.